Sebenarnya osteoporosis tidak menimbulkan rasa nyeri
sehingga umumnya penderita tidak mengetahui bahwa dirinya terserang
osteoporosis. Rasa nyeri baru muncul jika terjadi patah tulang. Patah tulang
panggul dan pergelangan tangan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Demikian juga
trauma yang sangat kecil pada tulang iga. Sedangkan nyeri akibat patah tulang
punggung tidaklah seberapa, namun berakibat tinggi tubuh berkurang karena
menjadi bungkuk.
Untuk diketahui, nyeri tulang bukan hanya disebabkan
fraktur, tetapi juga sebagai
akibat kerusakan tulang atau kekakuan otot. Ini menyebabkan rasa nyeri yang
kronis. Penanganan rasa nyeri patah tulang osteoporosis tidak banyak berbeda
dengan patah tulang pada orang tanpa osteoporosis. Namun perlu diingat, patah
tulang osteoporosis biasanya terjadi pada lansia yang juga ada tulang lain yang
keropos yang bisa mengalami fraktur.
Beberapa gerakan yang salah dapat menyebabkan terjadinya
fraktur pada lansia, terutama pada saat mengangkat beban yang cukup berat.
Selain itu posisi tubuh yang tidak pas pada saat menopang beban tubuh juga
sangat berisiko menyebabkan terjadinya hal ini. Oleh karena itu Anda
berkewajiban untuk selalu memperhatikan orang tua Anda yang sudah lanjut usia
agar hal-hal seperti ini tidak terjadi.
Pada lansia kemungkinan besar ada penyakit-penyakit lain
yang diidapnya. Ada dua macam rasa nyeri, yaitu nyeri akut dan nyeri kronis.
Nyeri akut timbul mendadak sesaat setelah terjadi patah tulang. Dengan penanganan
yang baik, nyeri akut dapat segera diatasi. Sementara nyeri kronis adalah rasa
nyeri yang dirasakan lebih dari tiga bulan. Nyeri semacam ini akan membuat
penderitanya stres, depresi, mudah marah, bahkan frustrasi. Bahkan si penderita
tidak bisa bekerja mencari nafkah dan menjadi beban orang lain. Biaya
pengobatan pun mahal.
Terlepas dari semua itu, ada 3 jenis obat-obatan yang bisa
di gunakan untuk meredakan nyeri yang di rasakan oleh para penderita
osteoporosis. Beberapa di antaranya bisa di dapatkan di apotek namun ada juga
yang perlu mendapat resep dan pengawasan dari dokter. Penggunaan obat-obatan semacam ini hanya
boleh di lakukan dalam tempo yang di batasi, karena penggunaan dalam jangka
panjang dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kesehatan.
1. Kelompok Parasetamol
Mengatasi rasa nyeri, bisa dengan obat-obatan parasetamol
yang dapat dibeli bebas di apotek dengan nama dagang Panadol, Biogesic, atau
Dumin. Obat golongan ini mudah diserap usus dan tidak terlalu merangsang
lambung namun bisa menimbulkan gangguan fungsi hati, menimbulkan alergi, dan
bercak pada kulit, dan kemungkinan terjadi perdarahan.
2. Antiinflamasi Non-steroid
Meskipun dapat meredakan rasa nyeri, namun parasetamol tidak
dapat menyembuhkan radang/inflamasi. Untuk itu diperlukan obat-obatan
antiinflamasi nonsteroid (nonsteroid anti-inflammatory drugs disingkat NSAID).
Obat-obatan golongan ini selain mampu meredakan nyeri juga memerangi radang.
NSAID tidak mengandung streroid dan narkotik, kerjanya menghambat enzim
cyclooxygenase (COX). Contoh NSAID: aspirin, phenyl-butazone, naproxen,
ibuprofen, diclofenac, piroxicam, tenoxicam, celecoxib, lumiracoxib.
3. Golongan Narkotika
Obat antinyeri bisa digabungkan dengan narkotika untuk
menambah kekuatan anti-sakitnya.
Contohnya codein. Obat-obat semacam ini harus di bawah pengawasan dokter,
karena itu hanya dapat dibeli dengan resep dokter. Bisa terjadi efek samping,
seperti sesak napas, ruam kulit, sulit BAB. Jika mengalami efek samping
tersebut, penderita harus melapor ke dokter. Perlu diketahui, bahwa pemakaian
dalam jangka panjang dapat menimbulkan adiksi atau ketagihan.
Itulah bagaimana cara mengatasi nyeri pada penderita
osteoporosis dan jenis-jenis obat yang bisa Anda gunakan. Jangan lupa untuk
selalu berkonsultasi kepada dokter Anda terlebih dahulu sebelum mengkonsumsi
obat-obat pereda nyeri diatas. Semoga bisa memberikan informasi yang bermanfaat
untuk Anda.

No comments:
Post a Comment